Selasa, 08 November 2016

[Ada Kekuatan Besar di Balik Basuki]

Ada Kekuatan Besar di Balik Basuki
Oleh : Bisma Putra Aprilianta

Ahok itu pembeda, bukan hanya karena ada Ahok lalu ada haters dan lovers. Tapi harus diakui kalau Ahok itu pembeda.
Karena Ahok, maka ada istilah Teman Ahok dan tentu bukan Teman Ahok.
      Teman Ahok sudah beraksi. Apa pun hasil dari usaha Teman Ahok. Tapi karena Teman Ahok, Ahok menjadi pembeda. Orang dengan kasat mata dapat melihat keputusan yang sudah diambil Ahok. Kalau dulu pernah Ahok mengambil keputusan bahwa lebih baik tidak menjadi Gubernur, kalau tidak bersama Ahok. Maka jika Ahok sekarang masih ingin menjadi Gubernur, walaupun tidak dengan Teman Ahok, tetapi bersama The Tree Muskeeter Nasdem, Hanura dan Golkar, Ahok dapat menjadi pembeda.
     Orang boleh membuat persepsi bahwa Ahok itu tidak konsisten. Tetapi orang juga boleh berasumsi Ahok itu konsisten. Sekali lagi Ahok menjadi pembeda. Banyak orang mengatakan Ahok tidak konsisten ketika akhirnya memutuskan Ahok akan maju sebagai Cagub di Pilkada  DKI tahun 2017 via 3 partai. Padahal dulu Ahok pernah mengatakan hal-hal yang buruk tentang partai, seperti “mahar”, misalnya. Ahok menjadi anchorman untuk membuka tabir fungsi dan posisi partai yang begitu dominan dan menjadi kekuatan hegemoni yang dapat menghalangi orang atau tokoh yang ingin muncul, tapi tidak mau berkolaborasi dengan partai. Ahok merupakan salah satu figure kekuatan independen yang ditunggu-tunggu aksinya. Ki Difangir sudah mengiringi perjalanan perjuangan Ahok dalam Buku Balada Ki Difangir: Aksi Calon Independen. Namun begitu Ahok berbalik arah, memutuskan untuk maju ke arena Pilkada DKI lewat parpol, maka Ahok dianggap tidak konsisten.  
      Di luar itu, namun ternyata masih banyak yang menganggap Ahok itu konsisten. Menurut banyak orang Ahok itu konsisten ingin menjadi Gubernur DKI, apakah mau lewat jalur independen atau jalur partai, yang penting Ahok konsisten, ingin menjadi Gubernur DKI. Nah lo. Ahok menjadi Pembeda.
      Ahok juga menjadi pembeda ketika namanya dikait-kaitkan dengan petinggi partai PDIP. Ahok itu masuk ke dalam lingkaran paling berkuasa di PDIP. Sementara suara-suara sumbang tentang Ahok di PDIP, dianggap suara dari ‘kurcaci”. Sekali lagi Ahok menjadi pembeda.
      Tetapi memang menurut asumsi dari Garuda Zakti (Gaza) anak Ki Difangir dengan Ratu Kali Ming, Ahok ini memang pembeda.
Coba bayangkan bagi siapa saja yang mendukung Ahok atau tidak mendukung Ahok, ada kesan bahwa Ahok itu seng ada lawan. So Pilkada DKI sudah selesai sebelum digelar. Pemenangnya adalah Ahok. Ahok itu sungguh orang yang luar biasa, teman dekat Bu Mega. Jadi kawan-kawan PDIP yang belum dapat masuk ke ring Bu Mega, tidak usahlah teriak-teriak, suaramu tidak akan didengar.
      Tapi anehnya, sudahlah menurut info yang berkembang, elektabilitas Ahok lebih dari 50 persen, maju didukung The Three Muskeeter partai, sampai sekarang kok belum punya calon Wakil Gubernur. Nah sekali lagi cubitan GaZa itu memposisikan Ahok sebagai pembeda.
      Kalau masalah Calon Wakil Gubernur sih bukan masalah besar bagi Ahok. Jangankan, hanya Calon Wagub, calon lain bukan hanya Calon Wagub, Cagubnya juga belum ada. Nah lho. Ahok itu pembeda, bukan ?
Pada akhirnya nanti Ahok akan menjadi Pembeda.
      Kalau Ahok menang lagi, itu harus diakui ada kekuatan yang maha dahsyat yang menghantarkan Ahok sehingga mampu menang dalam Pilkada DKI 2017.
      Namun nanti jika ternyata Ahok tidak menjadi Gubernur DKI lagi untuk masa jabatan yang ke dua, Ahok akan tahu bahwa ada kekuatan yang maha dahsyat yang mengalahkan Ahok.
       Bagaimana Ahok menang. Bagi yang tidak setuju dengan kepemimpinan Ahok harus mawas diri, dan memberi kesempatan Ahok untuk menguasai DKI.
Bagaimana jika Ahok kalah. Mundur teratur, lalu repostisioning, mau ke mana setelah ini.
Masyarakat dapat belajar banyak dari pertarungan kang ouw pilkada DKI 2017. Ahok itu pembeda.
ADA KEKUATAN BESAR DI BALIK BASUKI.